Pages

Rabu, 03 Februari 2010

Asal-Usul dan Arti Istilah Inkulturasi

Walaupun kata “inculturatio” tidak terdapat dalam bahasa Latin klasik, jelaslah istilah tersebut berasal-usul dari bahasa Latin. Dibentuk dari kata depan in (menunjukkan di mana sesuatu ada/berlangsung: di(dalam), di(atas) atau menunjukkan ke mana sesuatu bergerak: ke, ke arah, ke dalam, ke atas); dan kata kerja colo, colere, colui, cultum (= menanami, mengolah, mengerjakan, mendiami, memelihara, menghormati, menyembah, beribadat). Dari kata kerja ini berasal kata benda cultura (=pengusahaan, penanaman, tanah pertanian; pendidikan, penggemblengan; pemujaan, penyembahan); tampaknya dari gabungan semua arti tersebutlah kata cultura mendapatkan arti kebudayaan. Maka “inculturatio” secara harafiah berarti “penyisipan ke dalam suatu kebudayaan”.
Dalam antropologi kebudayaan terdapat dua istilah tehnis yang berakar kata sama, yaitu ‘akulturasi’ dan ‘enkulturasi’. ‘Akulturasi’ sinonim dengan ‘kontak-budaya’, yaitu pertemuan antara dua budaya berbeda dan perubahan yang ditimbulkannya. Sedangkan ‘enkulturasi’ menunjuk pada proses inisiasi seorang individu ke dalam budayanya.
Inkulturasi sebagai proses pengintegrasian pengalaman suatu kelompok ke dalam suatu budaya tertentu, tentu saja berbeda dari ‘akulturasi’. Perbedaan itu pertama-tama terletak di sini, bahwa hubungan antara suatu kelompok dan sebuah budaya tertentu tidak sama dengan kontak antar-budaya. Sebab suatu kelompok “berkaitan dengan misi dan hakekatnya, tidak terikat pada suatu bentuk budaya tertentu” Kecuali itu, proses Inkulturasi itu bukan sekedar suatu jenis ‘kontak’, melainkan sebuah penyisipan mendalam, yang dengannya Gereja menjadi bagian dari sebuah masyarakat tertentu (bdk. AG, 10). Demikian juga Inkulturasi berbeda dari ‘enkulturasi’. Sebab yang dimaksud dengan ‘inkulturasi’ ialah proses yang dengannya sebuah kelompok menjadi bagian dari budaya tertentu, dan bukan sekedar inisiasi seorang individu ke dalam budayanya.


Definisi Inkulturasi

Inkulturasi ialah: pengintegrasian pengalaman suatu kelompok lokal ke dalam kebudayaan setempat sedemikian rupa sehingga pengalaman tersebut tidak hanya mengungkapkan diri di dalam unsur-unsur kebudayaan bersangkutan, melainkan juga menjadi kekuatan yang menjiwai, mengarahkan, dan memperbaharui kebudayaan bersangkutan, dan dengan demikian menciptakan suatu kesatuan dan ‘communio’ baru, tidak hanya di dalam kebudayaan tersebut, melainkan juga sebagai unsur yang memperkaya kelompok besar.
Inkulturasi lebih mendalam daripada akulturasi. Dalam bukunya, Taylor (1973: 505) tidak menyebutkan istilah inkulturasi, namun menyebutkan istilah "enkulturasi" yang di dalamnya terjadi originasi yang kadang terjadi tanpa sengaja dan tanpa disadari. Originasi adalah suatu proses mengambil (bringing into being) sebuah karakter (an esotraii) yang dapat menjadi bagian dari kebudayaan sendiri (Taylor, 1973: 502). inkulturasi juga tidak sama dengan asimilasi. Asimilasi merupakan salah satu alternatif penyelesaian konflik, di mana salah satu kebudayaan lebih dominan sehingga terjadi proses "penyamaan" kebudayaan (becoming culturally similar) dan poin-poin penyebab konflik hilang (Horton dan Horton, 1982: 79). Secara garis besar, inkulturasi yang akan dibahas dalam studi ini adalah suatu interaksi yang sedemikian hingga budaya lama maupun budaya baru mengalami suatu transformasi (Prier, 1999: 7).


Definisi Akulturasi

1.Akulturasi adalah suatu situasi di mana sebuah kebudayaan termodifikasi dengan meminjam adat-istiadat dari satu atau lebih kebudayaan lain (Taylor,1973: 504).
2.Akulturasi adalah sewaktu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing, kebudayaan asing itu lambat laun di terima dan di olah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.



Teori komunikasi yang melandasi inkilturasi dan akulturasi

1. Komunikasi antar budaya merupakan suatu kegiatan yang semakin meningkat dilakukan oleh setipa orang di belahan dunia manapun, dikarenakan perkembangan dunia semakin menuju yang disebut “globalisasi”, dengan semakin meningkatnya kontak kontak komunikasi dan hubungan antar individu maupun kelompok antar bangsa dan negara. Adapun perkembangan tersebut juga diikuti dengan munculnya perkembangan masalah globalisasi juga. Maka dari itu sangatlah penting hubungan komunikasi yang berjalan harmoni untuk mengurangi hambatan hambatan komunikasi, maka akan tercipta saling pengertian antar sesama.

2. Latar belakang yang mendorong pentingnya melakukan kegiatan antar budaya dimulai dari kesadaran manusia akan perbedaan perbedaan dalam berbagai aspek seperti, ideologis, orientasi dan gaya hidup. Apabila perbedaan perbedaan tersebut tidak dapat di pahami dan diselesaikan, tentunya akan terjadi suatu ”chaos” seperti konflik, peperangan, diskriminasi, dan lain lain. Berangkat dari kesadaran akan perbedaan tersebut itulah, maka sangat penting melakukan pembelajaran akan kegiatan dan komunikasi antar budaya.

3. Komunikasi antar budaya adalah Studi atau ilmu yang mempelajari komunikasi baik itu secara individu, kelompok, golongan, budaya, sehingga mencakup semua dari hal tersebut. Adapun beberapa defini tentang komunikasi antar budaya dikemukakan beberapa ahli pakar
• Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi dalam suatu kondisi yang menunjukan adanya perbedaan budaya seperti bahasa, nilai nilai, adat, kebiasaan, dan lain lain (Stewart, 1974).
• Komunikasi antar budaya adalah inteaksi antara para anggota masyarakat yang berbeda kebudayaannya (Sitaram and Cogdell, 1976).
• Komunikasi antar budaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna diantara orang orang yang berebda kebudayaanya ( Gerhard Maletzke 1976).



4. Contoh dimensi tingkat masyarakat kelompok budaya ;
• Kawasan di dunia : Budaya Timur (East), Budaya Barat (West).
• Sub-kawasan di dunia : Budaya Amerika Utara, Budaya Amerika Latin.
• Nasional / Negara : Budaya Indonesia, Budaya Jepang, Budaya Afrika.
• Kelompok etnik-ras dalam negara : Budaya orang Amerika Hitam (Negro),
Budaya orang Indonesia Cina (Chinesse).

5. Contoh dimensi konteks sosial :

• Bisnis
• Organisasi

• Pendidikan
• Akulturasi imigran
• Politik
• Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan
• Konsulasi terapi

6 . Contoh dimensi saluran dalam komunikasi antar budaya :
• Antar pribadi / golongan.
• Media massa


Jawaban Latihan (hal 7.34).

1. Komunikasi dan kebudayaan sangatlah erat kaitannya, karena kebudayaan merupakan suatu kode atau kumpulan peraturan yang dipelajari dan dimiliki bersama melalui media bahasa atau komunikasi antar individunya.

2. Hakikat kebudayaan dalam komunikasi antar pribadi

3. Pembagian aspek kebudayaan menurut Samovar :
• Sistem keyakinan, nilai dan sikap.
• Pandangan hidup tentang dunia.
• Organisasi sosial.

4. Sepuluh klasifikasi umum sebagai model sederhana untuk menilai dan menganalisasi suatu kebudayaan secara sistematik menurut Harris dan Morran :
• Komunikasi dan bahasa.
• Pakaian dan Penampilan.
• Makanan dan tata cara makan.
• Konsep dan kesadaran tentang waktu.
• Pemberian imbalan dan pengakuan.
• Hubungan hubungan.
• Nilai nilai dan norma norma.
• Konsep kesadaran diri dan jarak ruang.
• Proses mental dan belajar.
• Keyakinan (kepercayaan) dan sikap.

5. Kategorisasi unsur unsur kebudayaan menurut Rubell yang dapat menjadi sumber kesalahpahaman dan miskomunikasi :
• Cara cara memberi salam dalam perjumpaan.
• Cara cara mengunjungi kerabat di rumah.
• Cara cara berpidato atau berbicara di muka umum.
• Cara cara mengadakan perjamuan.
• Gerak isyatay non verbal.
• Penampilan pribadi.
• Sikap umum.
• Bahasa.
• Agama.
• Hari hari libur khusus.
• Unit sosial keluarga.
• Adat kebiasaan dalam kencan ataupun perkawinan.
• Tingkat itngkat sosial ekonomi.
• Penyebaran kelompok.
• Pekerjaan.
• Makan dan makanan.
• Rekreasi.
• Sejarah dan pemerintahan.
• Pendidikan.
• Sistem perhubungan dan komunikasi.
• Kesehatan, kebersihan dan fasilitas pengobatan.
• Dampak keadaan geografik dan iklim.

Metateori Komunikasi Antarbudaya
Ada banyak cara memetakan suatu kajian komunikasi antarbudaya. Kajian tersebut dijelaskan dalam pelbagai teori yang tidak hanya berasal dari teori yang pernah dikaji sebelumnya, tetapi juga dari disiplin ilmu sosial lainnya. Teori-teori yang dipinjam dari ilmu-ilmu sosial lainya itu tentunya yang mirip dan bisa menjelaskan proses sosial yang dialami manusia.
Tinjauan ini akan dimulaidengan perspektif psikologis dan sosiologi untuk menerangkan masyarakat majemuk. Herbert Spencer dianggap sebgai orang pemula yang memperkenalkan perspektif evolusi dalam menerangkan perkembangan suatu masyarakat.

Konsep Penting dalam Komunikasi Antarbudaya
1. Kebudayaan
Kebudayaan dapat diartikan sebagai keseluruhan simbol, pemaknaan, dan penggambaran (imej), struktur aturan, kebiasaan, nilai, pemrosesan informasi, dan pengalihan pola-pola konvensi antara para anggota suatu sistem sosial dan kelomppok sosial.


2. Etnosentrisme
Konsep etnosentrisme seringkali dipakai secara bersama-sama dengan rasisme. Konsep ini mewakili sebuah pengertian bahwa setiap kelompok etnik atau ras mempunyai semangat bahwa kelompoknyalah yang lebih superior dari kelompok lain.

3. Prasangka
Prasangka adalah sikap antipati yang didasarkan pada kesalahan generalisasi ataua generalisasi yang tidak luwes yang diekspresikan lewat perasaan. Prasangka merupakan sikap negatif atas suatu kelompok tertentu dengan tanpa alasan dan pengetahuan atas seseuatu sebelumnya. Prasangka ini juga terkadang digunakan untk mengevaluasi sesuatu tanpa adanya argument atau informasi yang masuk. Efeknya adalah menjadikan orang lain sebagai sasaran, misalnya mengkambinghitamkan sasaran melalui streotip, diskriminasi, dan penciptaan jarak sosial (Bennet da Janet, 1996).
4. Streotip
Streotip berasal dari kecenderungan untuk mengorganisasikan sejumlah fenomena yang sama atau sejenis yang dimiliki oleh sekelompok orang ke dalam kategori tertentu yang bermakna. Streotip berkaitan dengan konstruksi imej yang telah ada dan terbentuk secara turn-temurun menurut sugesti. Ia tidak hanya mengacu pada imej negatif tetapi juga positif. Misalnya masyarakat Batak yang memiliki streotip yang kasa da tegas sdangkan masyarakat Jawa dikenal sebgaia masyarakat yang luwes, lemah, dan penurut.




Teori Pendukung
1. Teori Pertukaran
2. Teori Pengurangan Tingkat Ketidakpastian
3. Teori Analisis Kaidah Peran
4. Teori Analisis Interaksi Antarbudaya
5. Teori Analisis Kebudayaan Implisit

Teori Etnosentrisme
William Graham Sumner menilai bahwa masyarakat tetap memiliki sifat heterogen ( pengikut aliran evolusi).
Menurut Sumner (1906), manusia pada dasarnya seorang yang individualis yang cenderung mengikuti naluri biologis mementingkan diri sendiri sehingga menghasilkan hubungan di antara manusia yang bersifat antagonistic (pertentangan yang menceraiberaikan). Agar pertentangan dapat dicegah maka perlu adanya folkways yang bersumber pada pola-pola tertentu.
Pola-pola itu merupakan kebiasaan (habits), lama-kelamaan, menjadi adat istiadat (customs), kemudian menjadi norma-norma susila (mores), akhirnya menjadi hukum (laws). Kerjasama antarindividu dalam masyarakat pada umumnya bersifat antagonictic cooperation (kerjasama antarpihak yang berprinsip pertentangan). Akibatnya, manusia mementingkan kelompok dan dirinya atau orang lain. Lahirlah rasa ingroups atau we groups yang berlawanan dengan rasa outgroups atau they groups yang bermuara pada sikap etnosentris.
Sumner dalam Veeger (1990) sendiri yang memberikan istilah etnosentris. Dengan sikap itu, maka setiap kelompok merasa folkwaysnya yang paling unggul dan benar. Seperti yang dikutip oleh LeVine, dkk (1972), teori etnosentrisme Sumner mempunyai tiga segi, yaitu: (1) sejumlah masyarakat memiliki sejumlah ciri kehidupan sosial yang dapat dihipotesiskan sebagai sindrom, (2) sindrom-sindrom etnosentrisme secara fungsional berhubungan dengan susunan dan keberadaan kelompok serta persaingan antarkelompok, dan (3) adanya generalisasi bahwa semua kelompok menunjukkan sindrom tersebut. Ia menyebutkan sindrom itu seperti: kelompok intra yang aman (ingroups) sementara kelompok lain (outgroups) diremehkan atau malah tidak aman.
Zatrow (1989) menyebutkan bahwa setiap kelompok etnik memiliki keterikatan etnik yang tinggi melalui sikap etnosentrisme. Etnosentrisme merupakan suatu kecenderungan untuk memandang norma-norma dan nilai dalam kelompok budayanya sebagai yang absolute dan digunakan sebagai standar untuk mengukur dan bertindak terhadap semua kebudayaan yang lain. Sehingga etnosentrisme memunculkan sikap prasangka dan streotip negatif terhadap etnik atau kelompok lain.
Komunikasi antarbudaya dapat dijelaskan dengan teori etnosentrisme seperti diungkapkan oleh Samovar dan Porter (1976). Katanya, ada banyak variable yang mempengaruhi efektivitas komunikasi antarbuadaya, salah satunya adalah sikap. Sikap mempengaruhi komunikasi antarbuadaya, misalnya terlihat dalam etnosentrisme , pandangan hidup , nilai-nilai yang absolute, prasangka, dan streotip.

Aplikasi Teori Etnosentrisme pada Fenomena Sosial di Indonesia
1. Konflik dan Kepentingan Sosial
Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia memiliki potensi untuk terjadinya perpecahan. Hal ini terjadi karena adanya sikap etnosenris dan memandang kelompok lain dengan ukuran yang sama-sekali tidak ada konsesus atasnya. Terdapat lebih dari 200 suku dan 300 bahasa. Sehingga Indonesia adalah negara yang sangat kaya ada-istiadat. Namun, kekayaan itu akan menjadi lumpuh ketika perbedaan di antaranya tidak diperkuat oleh sikap nasionalisme. Hal bisa dilhat dari banyaknya konflik antaretnis di tahun 1990-an. Seperti tragedi Sampit, antar suku Madura dan Dayak. Dimana terdapat kecemburuan ekonomi anatar Madura sebagai pendatang dan Dayak sebagai penduduk asli. Tragedi Pos, Ambon, dan Perang adat di Papua.
Sebagai contoh di Papua. Seperti yang diberitakan Kompas Juli 2002, ada 312 suku yang menghuni Papua. Suku-suku ini merupakan penjabaran dari suku-suku asli yaitu Dani, Mee, Paniai, Amungme, Kamoro, biak, Ansus, Waropen, Bauzi, Asmat, Sentani, Nafri, Meyakh, Amaru, dan Iha. Setiap suku memiliki bahasa daerah (bahasa ibu) yang berbeda. Sehingga saat ini tedapat 312 bahasa di sana.
Tempat-tempat pemukiman suku-suku di Papua terbagi secara tradisional dengan corak kehidupan sosial ekonomi dan budaya sendiri. Suku-suku yang mendiami pantai, gunung, dan hutan memiliki karakteristik kebudayaan dan kebiasaan berbeda.. Hal ini pula berimbas pada nilai, norma, ukuran, agama, dan cara hidup yang beranekaragam pula.
Keanekaragaman ini sering memicu konflik antarsuku. Misalnya yang terjadi pada tahun 2001, dimana terdapat perang adat antara suku Asmat dan Dani. Masing-masing-masing-masing suku merasa sukunyalah yang paling benar dan harus dihormati. Perang adat berlangsung bertahun-tahun. Karena sebelum adanya salah satu pihak yang kalah atau semkain kuat danmelebihi pihak yang lain, maka perang pun tidak akan pernah berakhir.
Fenomena yang sama juga banyak terjadi di kota-kota besar misalnya Yogyakarta. Sebagai kota multiultur, banyak sekali pendatang dari penjuru nusantara dengan latarbelakang kebudayaan yang berbeda Masig-masing-masing membawa kepentingan dan nilai dari daerah masing-masing. Kekhawatiran yang keudan muncul adalah adalnya sentiment primordial dan etnosentris. Misalnya mahasiswayang berasal dari Medan (suku Batak) akan selalu berkras pada pendirian dan sikap yang menyebut dirinya sebagai orang yang tegas, berpendirian, dan kasar (kasar dalam artian tegas). Sedangkan Melayu dikatakan pemalu, relijius, dan merasa lebih bisa diterima di mana pun berada. Sedangkan Jawa, akibat pengaruh orde baru, menganggap dirinya paling maju dari daerah lain. Sehingga ketika berhubungan dengan orang luar Jawa, maka stigma yang terbentuk adalah stigma negatif seperti malas, kasar, dan pemberontak.



1. Komunikasi antar budaya merupakan suatu kegiatan yang semakin meningkat dilakukan oleh setipa orang di belahan dunia manapun, dikarenakan perkembangan dunia semakin menuju yang disebut “globalisasi”, dengan semakin meningkatnya kontak kontak komunikasi dan hubungan antar individu maupun kelompok antar bangsa dan negara. Adapun perkembangan tersebut juga diikuti dengan munculnya perkembangan masalah globalisasi juga. Maka dari itu sangatlah penting hubungan komunikasi yang berjalan harmoni untuk mengurangi hambatan hambatan komunikasi, maka akan tercipta saling pengertian antar sesama.

2. Latar belakang yang mendorong pentingnya melakukan kegiatan antar budaya dimulai dari kesadaran manusia akan perbedaan perbedaan dalam berbagai aspek seperti, ideologis, orientasi dan gaya hidup. Apabila perbedaan perbedaan tersebut tidak dapat di pahami dan diselesaikan, tentunya akan terjadi suatu ”chaos” seperti konflik, peperangan, diskriminasi, dan lain lain. Berangkat dari kesadaran akan perbedaan tersebut itulah, maka sangat penting melakukan pembelajaran akan kegiatan dan komunikasi antar budaya.

3. Komunikasi antar budaya adalah Studi atau ilmu yang mempelajari komunikasi baik itu secara individu, kelompok, golongan, budaya, sehingga mencakup semua dari hal tersebut. Adapun beberapa defini tentang komunikasi antar budaya dikemukakan beberapa ahli pakar ;
• Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi dalam suatu kondisi yang menunjukan adanya perbedaan budaya seperti bahasa, nilai nilai, adat, kebiasaan, dan lain lain (Stewart, 1974).
• Komunikasi antar budaya adalah inteaksi antara para anggota masyarakat yang berbeda kebudayaannya (Sitaram and Cogdell, 1976).
• Komunikasi antar budaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna diantara orang orang yang berebda kebudayaanya ( Gerhard Maletzke 1976).

4. Contoh dimensi tingkat masyarakat kelompok budaya ;
• Kawasan di dunia : Budaya Timur (East), Budaya Barat (West).
• Sub-kawasan di dunia : Budaya Amerika Utara, Budaya Amerika Latin.
• Nasional / Negara : Budaya Indonesia, Budaya Jepang, Budaya Afrika.
• Kelompok etnik-ras dalam negara : Budaya orang Amerika Hitam (Negro),
Budaya orang Indonesia Cina (Chinesse).

5. Contoh dimensi konteks sosial :
• Bisnis
• Organisasi
• Pendidikan
• Akulturasi imigran
• Politik
• Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan
• Konsulasi terapi

6 . Contoh dimensi saluran dalam komunikasi antar budaya :
• Antar pribadi / golongan.
• Media massa


Jawaban Latihan (hal 7.34).

1. Komunikasi dan kebudayaan sangatlah erat kaitannya, karena kebudayaan merupakan suatu kode atau kumpulan peraturan yang dipelajari dan dimiliki bersama melalui media bahasa atau komunikasi antar individunya.

2. Hakikat kebudayaan dalam komunikasi antar pribadi

3. Pembagian aspek kebudayaan menurut Samovar :
• Sistem keyakinan, nilai dan sikap.
• Pandangan hidup tentang dunia.
• Organisasi sosial.

4. Sepuluh klasifikasi umum sebagai model sederhana untuk menilai dan menganalisasi suatu kebudayaan secara sistematik menurut Harris dan Morran :
• Komunikasi dan bahasa.
• Pakaian dan Penampilan.
• Makanan dan tata cara makan.
• Konsep dan kesadaran tentang waktu.
• Pemberian imbalan dan pengakuan.
• Hubungan hubungan.
• Nilai nilai dan norma norma.
• Konsep kesadaran diri dan jarak ruang.
• Proses mental dan belajar.
• Keyakinan (kepercayaan) dan sikap.

5. Kategorisasi unsur unsur kebudayaan menurut Rubell yang dapat menjadi sumber kesalahpahaman dan miskomunikasi :
• Cara cara memberi salam dalam perjumpaan.
• Cara cara mengunjungi kerabat di rumah.
• Cara cara berpidato atau berbicara di muka umum.
• Cara cara mengadakan perjamuan.
• Gerak isyatay non verbal.
• Penampilan pribadi.
• Sikap umum.
• Bahasa.
• Agama.
• Hari hari libur khusus.
• Unit sosial keluarga.
• Adat kebiasaan dalam kencan ataupun perkawinan.
• Tingkat itngkat sosial ekonomi.
• Penyebaran kelompok.
• Pekerjaan.
• Makan dan makanan.
• Rekreasi.
• Sejarah dan pemerintahan.
• Pendidikan.
• Sistem perhubungan dan komunikasi.
• Kesehatan, kebersihan dan fasilitas pengobatan.
• Dampak keadaan geografik dan iklim.
Di post ke dalam Blog oleh : Inge Fadjar Pkl 02:14 0 Comment

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar